mengapa harus futsal ?

  1. akses ke lapangan bola agak susah.
  2. lebih mudah mengumpulkan orang,cos pesertanya yang lebih sedikit
  3. padatnya jadual individu, cukup dengan waktu singkat sudah bisa menyalurkan hobi sakligus olah raga
  4. inddor.. (gak kehujanan, gak kepanasan)
  5. tidak perlu fisik yang super.
  6. tak perlu ketrampilan yang wah.. cukup bisa lari dan bisa nendang..
  7. apa lagi ?

belajar dan belajar

Any software application requires some effort to learn. … sebaris kalimat dari sini yang enteng tapi “ngampleng”.

Di jaman yang makin amburadul ini dimana semuanya pengen instan ternyata masih ada yang mengerti bahwa semua perlu dipelajari terlebih dahulu sebelum kita paham sesuatu. Semua ada proses yang pahit terlebih dahulu sebelum kita menikmati manisnya hasil dari apa yang kita kerjakan.

Tadi pagi baru aja ada wawancara dengan fresh graduate yang ikut seleksi di kantor. Ada yang menarik ketika pelaku wawancara menanyakan fasilitas yang didapatkan jika ia diterima bekerja di kantor. Ada 2 sisi yang bisa saya ambil dari kejadian tersebut. Disatu sisi itu bukanlah hal tabu, pewawancara berhak menanyakan sisi perusahaan, seperti apa system, cara kerja, gaji dll demi kejelasan nasib ketika ia benar2 diterima bekerja. Namun disisi lain itu menimbulkan kekhawatiran bagi perusahaan, anak baru lulus ko sudah berani minta fasilitas? belum terbukti kemampuannya bekerja ko sudah minta macem2? Dimana semangat dan idealisme mahasiswa? apakah sudah sebegitu “manjanya” fresh graduate saat ini sehingga baru masuk kerja sudah minta fasilitas?

Yang perlu digarisbawahi adalah “semangat” untuk belajar.  Untuk menghasilkan sesuatu yang bermutu diperlukan “usaha”. I have not failed. I’ve just found 10,000 ways that won’t work (Thomas A. Edison ). Saya hanya agak khawatir dengan budaya instant yang ada di generasi sekarang. Pengen bisa bikin aplikasi yang bagus pengeinnya cepet, potong kompas dan akhirnya copy-paste dan tidak mengerti alur logika program. Hasilnya ? Bagaikan buah semangka yang dipukul2, dari luar kelihatan mulus tapi jika diiris isinya sudah hancur, rusak. Sudah ada file manual, buku, internet,  bahkan contoh aplikasi, mbok ya-o itu dipelajari dahulu, dimengerti dan dicoba. Cobalah semaksimal mungkin baru bertanya dan cari sumber. Bagaimanapun hasil dari buah pikiran sendiri lebih menyenangkan daripada hasil copy-paste.

manja –> adakah manfaatnya?

evaluasi perjalanan dan tujuan hidup

hidup selalu dinamis, penuh dengan perubahan.

Saatnya mengevaluasi lagi tujuan hidup, apakah yang kita lakukan sudah bener2 sesuai dengan tujuan hidup dan keinginan kita ataukah kita hanya melakukan aktifitas sehari2 tanpa ada “ruh” dan semangat yang menyertainya. Tentu kita tidak mau hidup hampa, melakukan sesuatu tanpa makna dan manfaat bagi kita. Saatnya memilih antara realitas dan idealisme, saatnya membuat kesepakatan2 agar keduanya bisa berjalan bareng, misa bermanfaat buat semua. Melihat orang tersenyum gembira atas apa yang telah kita lakukan kepadanya adalah hal yang menyenangkan.

Seringkali kita terjebak pada situasi, kondisi dan keadaan yang kita rasakan “useless”. Kita merasa tidak berguna, apa yang kita lakukan tidak ada gunanya bagi diri kita dan juga orang lain. Seringkali kita tidak menikmati apa yang kita lakukan, kita hanya melakukan sesuatu “seperti biasanya” tanpa ada rasa untuk menikmatinya. Seringkali kita berada pada situasi yang menyudutkan kita, menyulitkan kita untuk bergerak sesuai isi hati kita. Seringkali kita sudah merasa berjuang, berkreasi, mencoba tetap mengekspresikan diri kita, menunjukkan siapa diri kita, eksistensi kita, tapi situasi dan kondisi tidak memungkinkan tercapainya keinginan tersebut. Dan seringkali usaha kita kandas ki kandang kita sendiri, kandas di bidang yang kita tekuni sendiri, kandas oleh keputusan2 yang memang harus kita terima.

Sering serasa pegen lepas dari semuanya, pengen menjadi “ini lho aku”, “ini lho yang bisa aku berikan”. namun ketika kita melihat di sekeliling kita, kita dituntut untuk berpikir kembali.. seperti ini hidup yang “harus” kita jalani, yang kadang tidak seperti hidup yang “ingin” kita jalani. Kita terjebak pada “keharusan2″ yang diciptakan orang lain, bahkan keharusan itu lebih kuat dari keharusan yang kita ciptakan sendiri. Kita menjadi seperti apa yang orang lain inginkan, bukan seperti apa yang kita inginkan. Kita hidup dalam bayang2 diri kita yang dipandang orang lain, bukan hidup sebagai diri kita sendiri, menjadi apa adanya diri kita.

apakah aku sudah begitu mengorbankan diriku sehingga aku lupa pada siapa diriku sebenarnya?
–> sebuah krisis jatidiri akut dan belum bisa lepas dari ini semua.

sebuah kesalahan

Mengapa begitu gampangnya mencari kesalahan orang lain? Terus mencari-cari kesalahan orang lain, bahkan mengumbar-ngumbarnya ke banyak orang? Sadarkah kalau kau paling hobi mencari kesalahan orang lain? Apakah melihat orang lain dan menemukan kesalahan adalah kelebihan yang patut kau banggakan? Apalagi kalo sudah pakai jurus pokoknya™. Wah semakin hilanglah martabat orang lain, seolah olah orang lain itu gak penting dan gak perlu untuk ada. seolah2 engkau adalah dewa yang paling benar!!

Memang mencari kesalahan akan mudah dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan. Seperti pejabat itu contohnya. Apalagi kalo pejabat tingkat tinggi, wah pasti lebih jago lagi cara cari kesalahan orang lain.

Mungkin lebih baik jika kita meletakkan setiap hal pada porsinya dan secara proporsional. Tidak perlu dilebih2kan dan tidak pula dikurangi, biarkan data seperti apa adanya. Memang kesalahan kecil bila dibiarkan bisa berakibat fatal. Apalagi kalau besar, tentunya bisa bahaya. Dan untuk itu memang harus diperbaiki, bahkan segera. Tapi tolong dilihat prosesnya…

Pantaskah menyalahkan individu ke khalayak ramai untuk kesalahan yang sifatnya pribadi? Pantaskah menjelek-jelekkan orang lain ketika kita punya pandangan yang berbeda? Maunya itu membenahi kesalahan atau menghina-dinakan orangnya sih??? Atau Jangan-jangan hanya menyalah-nyalahkan orang lain untuk menutupi kesalahan sendiri. Atau untuk memperlihatkan kelebihan2 dengan merendahkan orang lain??? Atau karenabelum begitu dewasa dalam hal kejiwaan sehingga susah menerima pendapat orang laen???

menganalisa sebuah komitmen

Komitmen itu melekat pada tujuan.
Konsistensi terkait dengan metode.
Fleksibilitas diperlukan ketika ada metode yang lebih baik.
Persisten dibutuhkan ketika si-penyampai hanya NATO (not action talking only)
Seperti pepatah jawa yang mengatakan ‘ajine diri soko lathi’ yang artinya kurang lebih baik tidaknya diri seseorang terlihat dari kata-kata yang diucapkannya.

Menganalisa sebuah komitmen diawali dengan tujuan bersama yang “dulu” disepakati bersama. Awal mula semua pasti kelihatan indah, apalagi jika dibumbui perkataan manis penuh janji. Awalnya memang berjalan baik-baik saja, tidak banyak friksi yang terjadi, semuanya bisa berjalan seperti seharusnya.

Dalam perjalanan tentunya ada kerikil-kerikil tajam yang menghadang langkah untuk meraih tujuan. Untuk menghadapi itu diperlukan konsistensi dari masing2 pihak. Diperlukan metode yang tepat dan kesepakatan2 bersama untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kesepakatan akan terjadi jika kedua belah pihak tidak mementingkan egoisme, masing2 harus mau mengalah, salah satu pihak tidak memaksakan diri untuk memenuhi keinginannya. Jika itu mungkin dilakukan seharusnya setiap kemungkinan bisa dicoba dan dilaksanakan. Jika kesepakatan sulit untuk dilakukan tentunya ada yang tidak beres dengan komitmen dan konsistensi, jika memang tidak mampu mengatasi permasalahan sebaiknya dengan “legowo” mengakui ketidaksanggupannya, dibicarakan baik-baik, dan jangan mengobral janji. Konsistensi terkait dengan metode untuk melakukan segala kemungkinan yang bisa dilakukan untuk menjalani komitmen yang telah dibuat.

Fleksibilitas diperlukan untuk melakukan segala kemungkinan yang bisa dilakukan. Banyak metode untuk memecahkan permasalahan. Banyak jalan menuju roma, jalan darat banyak jalur, pake laut juga sampe, lewat udara masi luas. Alternatif metode tentunya ada, masing2 pihak harusnya tidak ngotot dengan metodenya sendiri. Bukankah hasil akhir dari komitmen bersama yang menjadi tujuannya? Egoisme bisa menjadi biang kerok dari permasalahan. Idealisme dalam memecahkan masalah seringkali menjadikan orang lupa pada komitmen dan konsistensinya. Fleksibilitas pemecahan masalah hilang dimakan penyakit yang namanya egoisme.

Ketika masing2 berjalan pada rel-nya sendiri2 akan banyak sekali omong kosong yang diucapkan, akan banyak janji yang diingkari, akan banyak kebohongan2 yang dilakukan dan akan banyak omongan ngawur yang bikin semuanya berantakan. Disaat itu perlu dilakukan analisa kembali atas tujuan bersama, atas komitmen yang telah dibuat, dan atas perilaku2 yang telah dilakukan baik itu yang biasa saja maupun yang menyakitkan hati. Dan ketika kepercayaan itu sudah hilang bisakah komitmen itu dipertahankan?

‘ajine diri soko lathi’ –> hanya itu yang perlu dibuktikan

Sebelum Kita Mengeluh…

dari sini

aku capek

Mengapa aku capek ya?. Capek fisik atau emosi?
capek fisik biasanya semakin parah di pagi hari dan penawarnya adalah tidur yang cukup. capek emosional juga hampir sama, biasanya semakin parah pada pagi hari dan berkurang menjelang malam.

capek fisik secara teori biasanya karena :

capek emosi juga ada teorinya :

ada yang mau kasi solusi ?

pengetahuan terdiri dari ….

Pengetahuan itu bisa dibagi menjadi dua:

1. Explicit Knowledge: pengetahuan yang tertulis, terarsip, tersebar (cetak maupun elektronik) dan bisa sebagai bahan pembelajaran (reference) untuk orang lain.
2. Tacit Knowledge: pengetahuan yang berbentuk know-how, pengalaman, skill, pemahaman, maupun rules of thumb. Nah dari contoh di atas, ketika seorang member milis menjawab berdasarkan pengalaman dia, hasil ngoprek atau nggak sengaja dapat solusi misalnya, itu semua adalah tacit knowledge.

Tacit knowledge ini kadang susah kita ungkapkan atau kita tulis. Contohnya, seorang koki hebat kadang ketika menulis resep masakan, terpaksa menggunakan ungkapan “garam secukupnya” atau “gula secukupnya”. Soalnya memang dia sendiri nggak pernah ngukur berapa gram itu garam dan gula, semua menggunakan know-how dan pengalaman selama puluhan tahun memasak. Itulah kenapa dikatakan bahwa pengetahuan kita jauh lebih banyak daripada yang kita ceritakan …

Beberapa hari ini saya dapet tugas untuk sharing dan diskusi untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan mengenai komputer. Kemampuan teori aja atau IP yang tinggi tidak cukup untuk menunjukkan sejauh mana dia menguasai bidang ilmu yang dipelajarinya. Diperlukan ketrampilan untk transfer ilmu, menunjukkan dan memperlihatkan kemampuannya secara elegan, tepat tanpa kelihatan sombong. Terlebih lagi ketika kita mengetahui cara kerja orang lain dalam melakukan tugasnya. Kita bisa menilai apakah orang tersebut melakukan pekerjaan secara efektif, sejauh mana efektifitas input –> proses –> dan output yang dihasilkan.

Kemampuan emosional seseorang juga bisa dinilai dalam menyelesaikan tugas dengan tekanan tertentu, bagaimana dia mensikapi tekanan2 yang timbul selama dia menuntaskan tugas tersebut. Kerja multitasking memang membutuhkan ketekunan, ketelatenan dan kesabaran. Sebuah tantangan yang menarik untuk menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik bagi semuanya.

–> belajar, bekerja, istirahat dan hiasi hidup dengan cinta dan kasih sayang, sebuah keseimbangan yang menyejukkan..

–> diambil dari berbagai sumber,

mengendalikan diri

mengendalikan diri memiliki dua dimensi yaitu mengendalikan emosi dan disiplin. Mengendalikan emosi berarti kita mampu mengenali/memahami serta mengelola emosi kita, sedangkan kedisiplinan adalah melakukan hal-hal yang harus kita lakukan secara ajeg dan teratur dalam upaya mencapai tujuan atau sasaran kita.

mengendalikan emosi :

kalau sedang berdiri maka duduklah
klo sedang duduk maka tidurlah
klo masih ada emosi maka wudhu lah
masih juga…maka sholat lah…

semangat research

research : keinginan dan idealisme lain yang sampe saat ini masi terpendam, sulit untuk diwujudkan.
ada yang bisa membantu saya ?